Senin, 17 April 2017

Selamat datang di Blog saya, HanifManthiq. Pada Postingan kali ini, saya akan membagikan cerita pendek. Cerita ini hanyalah sebuah gambaran dari salah satu imajinasi yang ada di pikiran saya. Cerita ini asli original buatan saya sendiri tanpa ada peng-copy-an dari Blog lain. Maka dari itu, saya mengharapkan pembaca dapat menghargai postingan ini. Semoga dari postingan ini kita dapat mengambil banyak manfaat. Selamat membaca.

HanifManthiq

“Wah, dia itu yang mendapat juara pertama Kejuaraan Matematika Tingkat Provinsi itu kan?” ucap murid-murid di sekolahku ketika melihatku mengenakan piagam kejuaraan tersebut saat berjalan pulang kerumah.

Sesampainya di rumahku, terlihat rumah begitu sepi. Ya, memang setiap hari seperti ini. Pantas saja, karena ibuku sedang bekerja di Singapura dan di rumah hanya tinggal aku seorang diri. Aku menaruh piagam itu di salah satu lemari di kamarku.

“Wah, sudah begitu banyak piagam ini, syukurlah. Uang ada, fasilitas tentu, piagam banyak, tapi kok kayak masih ada yang kurang dariku. Apa ya?” pikirku di dalam hati.

Anehnya, setiap aku melihat lemari di kamarku yang sudah penuh dengan piagam ini, selalu saja terpintas dipikirku “Apa ya yang masih kurang dariku?”
HanifManthiq

Suatu hari setelah aku pulang sekolah, seperti biasa aku mengganti pakaian, makan dan minum, lalu melaksanakan Shalat. Karena merasa bosan, akupun membuka laptop milikku dan membuka salah satu akun media sosialku. Setelah beberapa saat, aku melihat kiriman (status) salah satu temanku yang sangat menyentuh hatiku. Statusnya itu berisi kata seperti ini “Mah, Pah, kapan kalian pulang ?”

Melihat status itu, seperti ada hembusan angin yang menerpaku. Secara tak sengaja aku meneteskan air mata dan teringat  kepada Ibuku yang sedang bekerja di Singapura, karena Ayahku sudah lama meninggal. Tanpa pikir panjang, aku mengambil handphone milikku yang berada tidak jauh dariku dan langsung menelepon Ibuku itu. Namun, jawaban tak kunjung datang darinya. Kucoba untuk menghubunginya lagi, lagi, dan lagi. Namun hal yang sama terjadi, tak ada jawaban dari Ibuku. Dibenakku terpikir bagaimana keadaan Ibuku disana? Apakah Dia baik-baik saja? Apakah Dia masih mengingatku?

Wajar saja dibenakku terpikir pertanyaan-pertanyaan itu, karena hampir satu tahun setelah Ibu pergi bekerja ke Singapura, aku dan Dia tidak pernah lagi bercakapan. Kesendirian sudah menjadi teman untukku, bahkan kasih sayang seorang Ibu sudah sangat asing denganku. Sementara itu, ayahku sudah lama meninggal, tepatnya setahun setelah aku dilahirkan.
HanifManthiq

Sebulan setelah aku melihat status temanku yang sangat menyentuh hatiku. Selama sebulan ini, Ibuku masih terbayang dipikiranku, dimana? Dan bagaimana Dia sekarang ? Akibatnya itu sikapku selama sebulan itu menjadi berubah, aku menjadi acuh terhadap keadaan sekitar dan prestasiku di sekolahpun ikut merosot. Dan aku pernah di panggil beberapa kali oleh wali kelasku untuk berbicara 4 (empat) mata.

“Ahmad, ada apa denganmu? Belakangan ini kamu banyak mengalami perubahan. Sikap dan prestasimu menurun drastis !” Tanya heran wali kelasku terhadap penyebab perubahan perilakuku.

“Ah, gak ada kok Pak. Belakangan ini saya cuma lagi banyak pikiran saja pak, hehee”  jawabku menutupi permasalahan yang sedang kujalani.

Mendengar jawabanku itu, “Yasudah jika kamu baik-baik saja. Oh ya, dua minggu lagi pembagian rapot. Jangan lupa, rapot wajib diambil oleh orang tua. Mengerti?” kata wali kelas mengingatkanku.

Mendengar kabar itu, aku berpikir bagaimana nanti pas hari pembagian rapot tiba. Mana ibuku lagi bekerjaa di Singapura lagi. Aku hanya dapat menjawab “Iya pak, saya mengerti”

Selesai berbincang dengan wali kelas, aku pun pergi ke kelas untuk mengikuti proses belajar.

Saat pulang sekolah aku langsung segera menuju ke rumah. Sesampainya disana, aku langsung menghubungi Ibuku, untungnya Ibuku menjawab panggilan dariku.

“… Bu, dua minggu lagi di sekolah ada pembagian rapot. Dan itu harus diambil oleh orang tua. Ahmad harap Mamah bisa pulang untuk hari itu” pintaku kepada ibuku.

“… Maaf Nak, perusahaan Ibu sedang ada proyek besar-besaran selama sebulan ini. Jadi Ibu tidak bisa memenuhi keinginanmu” ujar Ibuku.
Dengan menangis aku bilang “Tapi Bu…” ucapanku terpotong perkataan Ibu.

“Maaf Ibu harus segera ke Kantor” kata Ibu dan teleponpun dimatikan olehnya.

Perbincangan singkat yang ku kira akan berakhir bahagia, tetapi malah sebaliknya, pikirku.
HanifManthiq

Dua minggu kemudian ketika hari pembagian rapot tiba. Semua siswa berangkat ke sekolah bersama dengan orang tuanya, kecuali aku sendiri. Aku masuk ke dalam kelas dengan muka yang tampak begitu sedih. Semua teman sekelasku sudah mengambil rapotnya masing-masing, dan sekarang giliranku. Aku menjadi terakhir karena tadi terlambat masuk ke dalam kelas.

“Ahmad, silakan ke depan” perintah wali kelas.
Akupun menuruti perintah wali kelas dan maju ke depan menghampirinya.

“Mana orang tuamu?” Tanya heran wali kelas.
Mendengar pertanyaan dari wali kelasku itu, spontan akupun menangis sendu.
Wali kelaspun bertanya kembali “Kamu kenapa Mad?”

“Maaf pak, orang tua saya sedang bekerja di Singapura dan tidak bisa pulang untuk hal ini. Mereka lebih mementingkan kariernya daripada anak kandungnya sendiri” jawabku sambil menahan tangis.

Mendengar perkataanku itu, wali kelasku mengelus kepalaku sambil berkata “Sabarlah Mad, orang tuamu bekerja juga untukmu, anak yang sangat disayanginnya”

“Tapi tidak seperti ini juga pak, kalau memang dia sayang kepadaku mana mungkin dia lebih mementingkan pekerjaannya disbanding hari penting anaknya”  jawabku dengan agak marah dan menyingkirkan tangan wali kelasku dari kepalaku.

“Sudahlah, taka da gunannya juga aku disini” lanjutku sambil pergi keluar.

“Hei Mad! Ahmad!” sahut wali kelas memanggilku, namun kuabaikan.
HanifManthiq

Akupun meninggalkan kelas dan berniat untuk pulang ke rumahku di seberang jalan sana. Namun, ditengah perjalanan saat ku melintasi jalan, tiba-tiba saja mobil truk dating dengan laju yang begitu cepat menghampiriku. Dengan kaget, ku coba melompat ke pinggir jalan. Memang aku berhasil menghindari mobil truk itu, namun dari upaya tadi kepalaku terbentur trotoar dengan kerasnya dan mendapat luka yang sangat parah. Secara setengah sadar, aku melihat orang-orang mengerumuniku dan membawaku ke dalam sebuah mobil. Dengan kejadian itu, aku menjadi tak sadarkan diri.

Hingga aku tersadar, terlihat disampingku terdapat seorang wanita yang sedang tertidur. Akupun mencoba meraih tangannya dan berkata “Kenapa aku?”

Sontak wanita itu terbangun dan langsung memelukku sambil berkata “Maafkan Ibu Nak. Ibu berjanji tidak akan mengabaikanmu lagi”

Dengan heran aku berkata “Ibu?” “Aku kenapa?” lanjutku.

“Iya nak, aku Ibumu. Kata Dokter kamu mengalami hilang ingatan” tutur wanita itu.
HanifManthiq

Selama di Rumah Sakit aku selalu ditemani oleh wanita itu yang mengaku Ibuku. Hingga pada suatu hari aku diperbolehkan untuk pulang ke rumah. Aku mengalami amnesia (hilang ingatan) sedangkan Ibuku memutuskan untuk resign dari kantornya dan lebih memilih untuk merawat anak sematawayangnya ini. Kamipun memulai kehidupan dari awal lagi.

Terimakasih telah membaca postingan saya yang berjudul Anak yang Terabaikan.  Bila diantara anda ada yang mau menyalinnya, silahkan saja namun tolong sertakan sumber yang jelas.

Post a Comment:

Copyright © 2017