Selasa, 18 April 2017

Selamat datang di Blog saya, HanifManthiq. Pada Postingan kali ini, saya akan membagikan cerita pendek. Cerita ini hanyalah sebuah gambaran dari salah satu imajinasi yang ada di pikiran saya. Cerita ini asli original buatan saya sendiri tanpa ada peng-copy-an dari Blog lain. Maka dari itu, saya mengharapkan pembaca dapat menghargai postingan ini. Semoga dari postingan ini kita dapat mengambil banyak manfaat. Selamat membaca.


HanifManthiq



Raka, salah seorang anak korban perceraian orang tuanya. Dulu ia tinggal bersama Ayahnya, namun sudah meninggal beberapa bulan lalu sementara Ibunya pergi entah kemana. Raka adalah salah seorang mahasiswa di salah satu kampus ternama di Bandung, UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA. Di waktu istirahat dia sedang berjalan menuju taman belakang Kampus di tengah ramainya suasana kampus sambil memasangkan sebelah headset di telinganya. Namun, langkahnya terhenti ketika ia melihat satu sepatu tergeletak di hadapan kakinya. Tanpa pikir panjang, iapun mengambil sepatu itu. Ia melirik ke arah kiri dan kanan coba temukan orang yang sedang kehilangan sepatunya. Dia mendapati seorang mahasiswi di sebelah kirinya yang terlihat hanya memakai sebelah sepatu saja.

“Mungkin cewek itu yang punya sepatu ini” pikirnya, diapun menghampiri mahasiswi tersebut lalu menepuk pelan pundaknya dan berkata “Maaf dek”. Spontan, mahasiswi itu menoleh kepada Raka dan pandangannya langsung tertuju kepada sepatu yang ada di tangan Raka. “Ooh… jadi kamu yang mengambil sepatuku?” ucap mahasiswi itu yang terdengar marah, “Sini kembalikan!” lanjutnya sambil merebut sepatu miliknya itu lalu menampar Raka dan pergi meninggalkannya begitu saja tanpa mengucapkan terimakasih. Raka yang mendapati tamparan dari mahasiswi itu hanya bisa diam, “Aneh ya itu cewek” pikirnya.

Hari itu berlalu, keesokan harinya Raka kembali ke kampusnya dengan menggunakan sepeda motor miliknya. Sesampainya di sana, Ia mengikuti proses pembelajaran seperti biasa sama halnya dengan mahasiswa/mahasiswi lain.
HanifManthiq

Jam istirahat tiba, seperti biasa Raka memasang sebelah headset miliknya di telinganya dan berjalan menuju taman. Sesampainya disana, dia duduk di salah satu bangku kosong dan menikmati merdunya alunan musik yang sedang ia dengarkan dengan memejamkan kedua matanya. Hingga ia terkagetkan oleh seorang wanita yang memanggilnya sambil menepuk pundaknya, “Hei kak!” ucap wanita itu. Sontak Raka membuka pejaman matanya.
“Eh, iya dek” jawab Raka kaget.
“Eeehh, kamu kan…” lanjut Raka namun terpotong oleh perkataan wanita itu.
“Iya kak, aku yang kemarin menampar kakak. Maaf ya…” tutur mahasiswi itu sambil duduk di samping Raka.
Mendengar perkataan mahasiswi itu, Raka hanya memalingkan wajahnya tanpa mengucapkan kata, “Memangnya mudah memaafkan wanita seseorang yang sudah menampar” pikirnya.
“Ih kaka… kemarin itu aku gak sengaja, cuma reflek aja… jadi nampar kakak”, ucap mahasiswi itu.
“Yasudah…” ucap Raka
 “Ih kakak… maafin ya…” pinta mahasiswi tersebut.
“Iya-iya, kakak maafin kamu kok. Cewek cantik kok cerewet gitu” ujar Raka.
“Eh tadi bilang apa?” Tanya mahasiswi.
“Enggak… cuma mau tanya, siapa nama adek?” tanya Raka.
“Nama adek Rara, kalo kakak siapa?” tanya balik mahasiswi itu yang bernama Rara.
“Kalo nama kakak Raka, kok mirip ya?” ujar Raka.
Merekapun berbincang satu sama lain, hingga bel masukpun berbunyi. Dan mereka terpaksa harus masuk ruangan mereka masing-masing dan mengikuti proses pembelajaran sesuai jurusannya masing-masing.

Jam pelajaran terakhir seselai, Raka langsung pergi ke tempat parkir dan mengendarai motor miliknya. Di gerbang keluar, Raka menemui Rara yang sedang sendirian.
“Hei, Ra! Kamu sendiri? Ikut denganku yuk!?” ajak Raka.
“Iya nih kak, serius? Ayo deh” sahut Rara.
Rara pun menaiki motor milik Raka. Raka mengantarkan pulang Rara ke rumahnya. Sampai di sana, “Makasih ya kak, hati-hati di jalannya” ucap Rara.
Raka hanya mengangguk saja dan mengendarai motor miliknya menuju ke rumahnya.
HanifManthiq
Ayah mengantar anaknya

Di kamarnya, Rara masih terbayang di pikiran Raka.
“Rara… pertama kali ku melihatnya, dia begitu kasar terhadapku. Namun tidak setelah aku mengenalnya lebih jauh. Hari ini begitu bermakna bagiku” gumam Raka.
Sama halnya dengan Rara, di pikirannya terbayang sesosok Raka, “Begitu baik Raka terhadapku, hingga ia bersedia mengantarkanku pulang. Padahal kemarin aku sudah menamparnya” pikirnya.
Sepertinya terdapat rasa diantara keduanya, rasa ingin saling memiliki, atau rasa lainnya.

Singkat cerita, seminggu berlalu. Selama seminggu ini, Raka dan Rara selalu bertemu baik di kampus atau janjian di suatu tempat. Hingga Raka memutuskan untuk ingin menjadikan Rara sebagi seseorang yang begitu istimewa di hidupnya, Raka ingin menyatakan perasaan cintanya kepada pujaan hatinya yang baru ia kenal, Rara. Hal ini terjadi ketika hampir semua mahasiswa/mahasiswi sudah pulang bertempat di taman kampus yang biasa mereka bertemu.

Raka mengambil tangan Rara dan berkata “Rara… sudah satu minggu ini kita mengenal. Dan dalam waktu itu, aku melihat banyak keistimewaan darimu, yang baru kali ini aku melihatnya. Sekarang adalah waktu yang pas untuk menyatakan hal itu padamu. Percayalah, aku mencintaimu…” Raka menatap mata Rara dengan penuh harap.
“Ra-Raka… sejak kita saling mengenal, akupun mempunya perasaan yang sama padamu. Aku juga mencintaimu, Raka…” jawab Rara.
“Jadi…” tanya Raka.
“Iya…” ucap Rara.
“Eh udah yuk, aku harus segera pulang nih” lanjut Rara mengalihkan pembicaraan.
“Iya, ayo” jawab Raka.
Seperti biasa, Raka mengantarkan Rara terlebih dahulu sebelum ia pulang.

Di rumahnya, Rara curhat kepada Ibunya mengenai lelakinya.
“Bu, Rara ingin mengenalkan seorang lelaki yang kucintai kepada Ibu” ucap Rara.
“Oohh, anak Ibu udah punya pacar rupanya… siapa itu nak? Kapan ia dating ke rumah ini?” jawab Ibu.
“Dia teman kampusku, ntah kapan dia ke sini” jawab Rara.
HanifManthiq
curhat dong Maaahh

Esok harinya pada jam istirahat, Raka menunggu Rara di taman. Namun, hingga masuk jam pembelajaran, Rara tak kunjung datang.
“Kemana ya Rara? Apakah dia tidak masuk kampus hari ini? Semoga saja dia baik-baik saja” pikir Raka.

Karena khawatir akan keadaan Rara, Raka pergi ke rumah Rara sehabis pulang dari kampus. Sesampainya disana, dia mengetuk pintu rumah Rara, “Assalamu’alaikum” ucapnya.
Pintu rumahpun terbuka, terlihat seorang wanita yang sudah cukup tua. Dia adalah Ibunya Rara, “Raka…” ucap Ibu Rara. Dia terlihat sudah sangat mengenali Raka.
“Hehee, iya Bu.” Raka pun salim kepada Ibu Rara.
“Rara nya ada Bu?” tanya Rara.
“Ada, silakan masuk saja” jawab Ibu Rara.

Raka pun masuk ke dalam rumah. Disana dia bertemu dengan Rara yang sedang berbaring di atas kasur di kamarnya. Mereka bertiga berbincang mengenai Rara, Raka, dan hubungan mereka berdua. Hingga hari sudah cukup petang, Raka pun pamit kepada Rara dan Ibunya untuk pulang ke rumahnya. Setelah Raka pulang, Ibu Rara berbicara kepada anaknya , Rara.

“Nak, lelaki tadi itu yang kamu ceritakan kepada Ibu waktu kemarin, bukan?” tanya Ibu Rara.
“Iya Bu, kenapa emangnya?” tanya Rara.
“Ibu ingin memberitahukannya kepadamu saja, jangan kamu beritahu dia tentang ini” ucap Ibu Rara.
“Ada apa Bu dengan dia?” tanya Rara.
“Dia itu saudara kandungmu, Nak. Begini ceritanya…” tutur Ibu Rara dan menceritakan hal yang di alaminya tentang Raka.
Mendengar penjelasan dari Ibunya, Rara pun tertunduk dan menangis. “Jadi Raka, orang yang sangat kucintai yang begitu mencintaiku adalah saudara kandungku?” pikir Rara.
“Mulai sekarang, tolong kamu jauhi dia. Jangan beritahu dia tentang yang Ibu ucapkan tadi kepadamu” tegas Ibu Rara.
“Iya Bu, jika itu yang terbaik” ucap Rara sebari menahan tangisan.
HanifManthiq
jangan nangis Do

Keesokan harinya, sikap Rara terhadap Raka berubah drastis, ia tak pernah lagi mendatangi Raka di taman. Merasa ada yang berubah dengan Rara, Raka menghampiri Rara yang kebetulan terlihat sedang duduk di depan kelasnya.
“Rara… ada apa denganmu?” Ucap Raka.
“Maaf Raka” jawab Rara lalu meninggalkan Raka.
“Ada apa dengan Rara? Hingga sikapnya begitu berubah terhadapku” pikir Raka.

Mahasiswa/mahasiswi kelas Rara pulang. Di rumahnya, Rara menangis sendu karena telah tahu akan lelaki yang begitu ia cintai. Ia menghampiri Ibunya yang sedang di kamar.
“Bu, Rara sudah gak kuat menahan rasa ini, Rara ingin pindah ke luar kota saja daripada terus menanggung beban ini” pinta Rara.
“Baiklah nak, besok kita pindah ke luar kota. Siapkan barang-barangmu yang akan engkau bawa. Kita tinggal bersama Bibimu di Jakarta”

Di kampus, Raka tidak melihat sekalipun Rara. Khawatir dengan hal itu, ia pun memutuskan untuk bolos dan pergi ke rumah Rara. Dari kejauhan, Raka melihat Rara yang sedang berjalan menuju Taxi di depan rumahnya.
“Rara… tunggu!” teriak Raka dari kejauhan.
Mendengar hal itu, Rara coba lari menuju Taxi untuk menjauhi Raka. Karena tergesa-gesa, ia tidak berhati-hati dengan langkahnya. Ya, dia terpeleset dan jatuh. Dengan keras, kepalanya terbentur trotoar.
Melihat hal itu terjadi kepada Rara, Raka dan Ibu Rara menghampiri Rara yang tergeletak.
“Rara…” ucap mereka berdua.
Langsung saja, Raka menggendong Rara dan memasukkannya ke dalam Taxi. Mereka pun pergi menuju Taxi. Di dalam Taxi, Ibu Rara bercerita kepada Raka. Dia menceritakan hal yang sama seperti yang ia ceritakan kepada Rara waktu itu.
“Raka, Ibu ingin berkata sesuatu yang sangat penting untukmu dan untuk Rara” tegas Ibu Rara.
“Apa itu Bu?” tanya Raka.
“Ibu adalah Ibumu Nak, dan Rara adalah adikmu” tutur Ibu Rar. Lalu ia menceritakan bagaimana dia bercerai dengan ayah Raka saat dirinya sedang mengandung Rara.
Mendengar penjeasan dari Ibu Rara yang ternyata adalah Ibunya Raka juga.

Sampai di Rumah Sakit, Rara langsung di periksa oleh seorang Dokter. Singkat cerita, Dokter selesai memeriksa Rara. Beliau menjelaskan bahwa Rara terkena hilang ingatan (amnesia) akibat benturan yang kena di kepalanya.
HanifManthiq

Rara menjalani perawatan beberapa hari di Rumah Sakit. Dikarenakan hal ini, Rara dan Ibunya tidak jadi pergi ke Jakarta, mereka lebih memilih tetap tinggal di Bandung. Terlebih mereka mempunyai seorang keluarga baru, Raka. Raka memilih untuk tinggal bersama Ibu dan Adiknya, karena di rumahnya tidak terdapat seorangpun disana karena Ayahnya telah meninggal beberapa bulan yang lalu.

Rasa cinta yang dimiliki oleh Raka terhadap Rara terpaksa harus lenyap karena sekarang dia tahu, bahwa seorang wanita yang dicintainya itu adalah adik kandungnya sendiri.
Raka dan Rara, dua insan yang saling mencintai, namun terlarang karena Cinta Sedarah.

Baca juga: Anak yang Terabaikan

Terimakasih telah membaca postingan saya yang berjudul Cinta Terlarang.  Bila diantara anda ada yang mau menyalinnya, silahkan saja namun tolong sertakan sumber yang jelas.

Post a Comment:

Copyright © 2017