Dari Kampanye Hingga Rakyat Sengsara
Selamat datang di Blog saya, HanifManthiq. Pada Postingan kali ini, saya akan mengemukakan pandangan saya terhadap kampanye. Tulisan ini hanyalah sebuah gambaran dari salah satu imajinasi yang ada di pikiran saya. Tulisan ini asli original buatan saya sendiri tanpa ada peng-copy-an dari Blog lain. Maka dari itu, saya mengharapkan pembaca dapat menghargai postingan ini. Semoga dari postingan ini kita dapat mengambil banyak manfaat. Selamat membaca.
Kampanye adalah hal yang sangat penting dalam menarik
perhatian dan memikat hati masyarakat, baik itu kampanye dalam hal bisnis,
politik, bahkan kampanye ketika mencalonkan menjadi seeorang gubernur atau
presiden.
Menurut pandangan saya sendiri, kampanye merupakan hal yang
sangat wajar, karena peranannya dalam perkembangan bisnis yang sedang
dijalankan oleh seseorang. Contoh saja ketika mencalonkan diri menjadi Pejabat
Negara, kampanye sangat penting dalam hasil akhir calon pejabat itu. Karena, semakin
banyak masyarakat yang tertarik kepada calon itu, otomatis jumlah suara yang memilih
pasangan calon tersebut akan mejelit, dan peluang menjadi pemenang akan semakin
luas.
Namun tata cara pelaksanaan kampanye dari pejabat di Negara kita
yang tidak begitu benar. Tidak sedikit para calon pejabat yang rela
menggelontorkan milyaran rupiah ketika berkampanye untuk lebih banyak menarik
hati warga, sebut saja MENYUAP. Tak cukup kepada masyarakat, para pejabat juga berkampanye kepada pihak KPU. Menyuap di sini dapat di artikan pembelian
pendapat warga. Penyuapan dapat berupa sembako, uang, bahkan janji-janji manis. Kenapa
coba, tidak berkampanye dan menyuap dengan cinta, atau memberikan pendamping
hidup kepada warga, kan enak jadinya. Tapi meskipun begitu, tetap saya yang
namanya penyuapan itu hukumnya HARAM.
Warganya juga yang salah, dengan mudahnya terbohongi oleh
tipu daya politisi negeri ini. Rakyat yang masih awam rela menjual pendapatnya
seharga mie instan, telur ayam, dan minyak goreng. Dengan barang ini mereka
terpaksa harus mencukupi kehidupannya selama 5 tahun kedepannya.
Lalu apa yang pejabat dapatkan dengan memberi mie instan,
telur ayam, dan minyak goreng kepada warganya? Jika seorang calon gubernur
memenangkan perhitungan suara, hitung saja pendapatan seorang gubernur setiap
bulannya. Dilansir dari Republika, jumlah anggaran yang diterima seorang
Gubernur DKI sebesar Rp. 751.800.000,- dalam waktu sebulan. Sedangkan masa
jabatan seorang Gubernur itu selama 5 tahun. Silakan anda kalikan sendiri
berapa jumlah anggaran yang diterima seorang Gubernur selama masa jabatannya.
Belum lagi ditambah dengan uang hasil KORUPSI dengan mengambil hak rakyat yang
jumlahnya tidak kalah banyak dengan total anggaran yang diterima.
Dengan jumlah yang sangat besar untuk seorang Gubernur DKI,
betapa kayanya negeri kita Indonesia ini. Kekayaan Indonesia sama banyaknya
dengan jumlah rakyat miskin di Indonesia.
Terimakasih telah membaca postingan saya yang berjudul Dari Kampanye Hingga Rakyat Sengsara. Bila diantara anda ada yang mau menyalinnya, silahkan saja namun tolong sertakan sumber yang jelas.


Post a Comment: